Skandal “Loker” Digital FH UI: Ketika Calon Penegak Hukum Menjadi Predator Verbal
DEPOK — Kampus kuning sedang berdarah. Predikat sebagai “pencetak pendekar hukum” seketika runtuh setelah borok grup chat berisi 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) terbongkar ke publik. Bukan sekadar guyonan seksis biasa, isi percakapan tersebut adalah potret dekadensi moral yang menjijikkan, di mana etika hukum diinjak-injak oleh mereka yang mempelajarinya.
Dosen dan Keluarga: Objek Seksual Tanpa Batas
Dunia maya dibuat geram oleh tangkapan layar yang menunjukkan betapa liarnya fantasi para pelaku. Mereka tidak hanya menguliti martabat rekan sesama mahasiswa, tetapi juga menjadikan dosen hingga anggota keluarga sendiri sebagai objek pelecehan seksual verbal.
“Ini bukan sekadar kekhilafan, ini adalah bukti adanya sistem nilai yang rusak di kepala calon-calon sarjana hukum kita.”
Dua Nama dalam Pusaran Hujatan
Dua nama kini menjadi sasaran kemarahan netizen:
- Keona Ezra Pangestu: Sempat mencoba mencuci tangan dengan bantahan, namun jejak digital berkata lain. Ia diduga kuat terlibat aktif dalam pelecehan verbal, bahkan terhadap pengajarnya sendiri.
- Danu Priambodo: Sosok yang memicu mual publik karena sikap apatisnya. Bayangkan, seorang adik yang bungkam dan membiarkan kakaknya sendiri dilecehkan secara seksual dalam grup tersebut demi sebuah “solidaritas” semu.
Internal FH UI Memanas
Forum internal pada Senin (13/4/2026) malam menjadi saksi bisu pecahnya tangis dan amarah. Seorang dosen bahkan tersentak di depan forum saat menyadari dirinya masuk dalam daftar “target” imajinasi kotor mahasiswanya sendiri.
Sanksi Administratif atau Pidana?
Meskipun Satgas PPKS dan Direktur Humas UI, Erwin Agustian Panigoro, menjanjikan sanksi berat hingga pemecatan (DO), publik menuntut lebih. Menyeret kasus ini ke ranah hukum bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk membuktikan bahwa FH UI tidak sedang memelihara predator.
Jika di bangku kuliah saja mereka sudah mahir melecehkan martabat manusia, akan jadi apa hukum Indonesia di tangan mereka kelak? Kasus ini bukan sekadar urusan internal kampus, melainkan darurat moral yang menuntut pembersihan total.

